Lewati ke konten utama
Kembali
Sejarah

رِحْلَةُ ٱلرِّيَاضَة

Perjalanan
Riyadhoh Quran.

Riyadhoh Quran bukan dirancang di meja rapat. Ia lahir dari rentetan kejadian sekitar tahun 2020—di tengah pandemi, ujian keluarga, dan satu dawuh lama dari KH Mufid—yang menuntun Mursyid kami, Cak Gugus Joko Waskito, untuk akhirnya menjadikan 41 hari tirakat sebagai jalan hidup.

  1. IAwal 2020 · Pandemi

    Telepon dari Lamongan

    Awal pandemi COVID-19. Cak Gugus tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan, jauh dari kampung halaman beliau. Suatu hari, telepon dari keluarga masuk: putra beliau dirawat di RSUD Lamongan karena terjangkit COVID-19.

    Tanpa menunggu lama, beliau berangkat malam itu juga bersama beberapa kawan, menempuh jalur darat lewat tol Trans-Jawa menuju Lamongan.

  2. IIDi tengah perjalanan

    Kabar Kedua di Rest Area

    Di tengah perjalanan, mobil berhenti sejenak di rest area. Telepon kedua datang—kali ini mengabarkan ibunda Cak Gugus telah wafat.

    Hati beliau, yang baru saja tegang oleh sakit sang anak, kembali diuji. Tujuan berbalik: dari RSUD Lamongan ke Mojosari, Mojokerto, untuk mengantar ibu beliau ke peristirahatan terakhir.

    Pemakaman sengaja ditunda menunggu kedatangan beliau—sebagai anak yang tinggal paling jauh, jamaah Mojosari menahan jenazah sampai beliau tiba.

  3. IIISelepas Pemakaman

    Mojosari ke Lamongan, lalu ke Jakarta

    Selepas pemakaman ibunda, Cak Gugus berangkat ke Lamongan untuk menengok putranya yang masih dalam perawatan.

    Beliau sempat mengusahakan pemindahan ke salah satu rumah sakit di Mojokerto, agar lebih dekat dengan keluarga besar. Namun rumah sakit di Mojokerto menyatakan tidak sanggup menangani—pasien dirujuk balik ke rumah sakit besar di Jakarta.

  4. IVRumah Sakit Harapan Kita

    Dua Minggu di Ruang Tunggu

    Cak Gugus menemani putranya selama dua minggu penuh di RS Harapan Kita, Jakarta. Hari demi hari berlalu di ruang tunggu, di sela mengurus dokumen medis dan mendampingi sang anak.

    Memasuki akhir pekan kedua, dokter penanggung jawab menyampaikan diagnosis berat: kondisi putra beliau sudah sampai pada titik yang menuntut hemodialisa—cuci darah.

  5. VSebelum Tindakan

    Doa Anak Panti, lalu Pintu Lain Terbuka

    Sebelum tindakan dilakukan, Cak Gugus bertemu seorang dokter lain. Pendapatnya berbeda: belum tentu cuci darah dibutuhkan—ia menawarkan jalan tengah, observasi selama dua hari, baru diputuskan langkah berikutnya.

    Dua hari itu tidak beliau habiskan dalam kecemasan saja. Cak Gugus menghubungi panti-panti asuhan dan pondok-pondok tahfidz Al-Qur'an, meminta mereka mengadakan doa bersama untuk kesembuhan sang anak.

    Hasil observasi: kondisi membaik. Cuci darah dibatalkan. Doa anak-anak yatim dan para huffadz menjadi titik balik yang tidak pernah beliau lupakan.

  6. VISepuluh Bulan Berikutnya

    Kontrol Rutin & Lima Belas Kapsul Sehari

    Selepas masa kritis, kondisi mulai stabil—namun belum benar-benar lepas. Protokol harian mencakup nyaris lima belas kapsul obat yang harus dikonsumsi sang putra setiap hari.

    Selama hampir sepuluh bulan, Cak Gugus rutin membawa putranya kontrol ke RS Harapan Kita, Jakarta. Pulang-pergi, periksa, antri obat—siklus yang berulang tanpa kepastian kapan akan berakhir.

  7. VIIPintu Ketiga

    Tiga Suntikan, Sembuh, Lepas

    Pada salah satu kontrol, seorang dokter lain menyampaikan opsi baru: tidak perlu menumpuk obat harian, cukup dengan tindakan suntik berkala. Biayanya berat—sekitar 55 juta rupiah per dosis—namun jauh lebih ringan secara medis bagi sang anak.

    Cak Gugus memilih jalan itu. Tiga kali suntik selesai, putra beliau pulih, lepas dari obat-obatan harian, dan kembali ke kehidupan normal.

  8. VIIITanah Suci

    Umroh & Khataman Sembilan Kali

    Sebagai bentuk syukur, Cak Gugus berangkat umroh—membawa serta keluarga besar dan beberapa kawan hafidz Al-Qur'an.

    Dalam 12 hari di tanah suci, salah seorang jamaah berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an sembilan kali. Capaian itu memantik pertanyaan yang kemudian menjadi cikal bakal program ini: bagaimana jika riyadhoh 41 hari dilakukan di tanah suci?

  9. IXDawuh KH Mufid

    “Puncak Doa itu Riyadhoh Quran”

    Pertanyaan itu mengembalikan ingatan Cak Gugus pada satu dawuh lama dari KH Mufid—pengasuh PP Sunan Pandanaran, Yogyakarta—bahwa pok-pok-e doa, puncak segala doa, adalah riyadhoh Al-Qur'an empat puluh satu hari di tanah suci.

    Sepulang umroh, niat itu beliau pegang erat. Beliau mengajak kawan-kawan hafidz untuk berangkat berikutnya bukan sekadar berziarah—melainkan berihtikaf, bertirakat, mengkhatamkan Al-Qur'an berjamaah selama 41 hari.

  10. XGelombang Pertama

    Haramain, Tertatih tapi Tuntas

    Gelombang pertama berangkat ke Haramain. Tanpa pengalaman, banyak hal terjadi tanpa kesiapan: logistik tertatih, jadwal berbenturan, ritme jamaah belum tertata.

    Namun 41 hari tetap dirampungkan. Pengalaman itu menjadi cetakan—setiap kekurangan dicatat untuk dirapikan di gelombang berikutnya.

  11. XIGelombang Kedua

    Haramain, Lebih Tertib

    Berbekal pengalaman gelombang pertama, gelombang kedua ke Haramain berjalan jauh lebih tertib. Pola harian terbentuk, ritme jamaah tertata, dan tujuan 30 juz bilghoib menjadi jelas.

  12. XIITanah Air

    Mojosari sebagai Pusat

    Setelah dua gelombang Haramain, riyadhoh tanah air dibuka di Mojosari, Mojokerto—tempat di mana beliau pernah memakamkan ibunda beliau.

    Sejak itu, pola tetap: tiga gelombang setiap tahun—gelombang awal, gelombang Rajab yang dipuncaki ziyarah Haramain, dan gelombang akhir. Setelah ketiganya tuntas, pendaftaran ditutup untuk tahun itu.

  13. XIIISisa Umur

    Untuk Para Huffadz Al-Qur'an

    Bagi Cak Gugus, Riyadhoh Quran bukan program kelembagaan belaka. Ia adalah perjalanan spiritual pribadi yang kemudian beliau bagikan—sebuah utang syukur kepada doa anak-anak panti, kepada dawuh KH Mufid, dan kepada ibunda beliau yang dimakamkan di Mojosari.

    Sebagaimana beliau dawuhkan: sisa umur ini diabdikan untuk para huffadz Al-Qur'an. Pusatnya, Mojosari—tempat di mana cerita ini bermula.

Catatan: narasi ini disusun dari penuturan Mursyid kami, Cak Gugus Joko Waskito, kemudian disunting untuk runtutan kronologis. Detil teknis medis disampaikan ringkas; rujukan dokumen tetap pada keluarga dan tim medis terkait.